Kisah Ibnu Shayyad (Bag. 3): Kaitan Hadis Tamim ad-Dariy tentang Dajjal dengan Ibnu Shayyad
Perkara tentang Ibnu Shayyad di kalangan para ulama menjadi pembahasan yang cukup samar dan penuh misteri. Dalam pembahasan sebelumnya, telah disampaikan beberapa dalil yang menunjukkan kemungkinan bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal itu sendiri.
Namun, di sisi lain, terdapat ulama yang berpendapat bahwa Ibnu Shayyad bukanlah Dajjal, dengan berdalil berdasarkan hadis Tamim ad-Dariy yang menjelaskan tentang Al-Jassasah yang terkenal.
Tamim bin Aus Ad-Dariy adalah seorang sahabat Nabi yang mulia, terkenal di kalangan para sahabat. Pada awalnya, dia seorang Nasrani, kemudian datang ke Madinah dan memeluk Islam. Dia menceritakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kisah al-Jassasah dan Dajjal, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikannya kepada umat di atas mimbar, dan hal ini dianggap sebagai salah satu keutamaannya. [1]
Al-Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya kepada Amir bin Syarahil asy-Sya’bi -kabilah Hamdan- bahwasanya ia bertanya kepada Fathimah binti Qais, saudari adh-Dhahhak bin Qais (dia adalah salah seorang wanita yang ikut pada hijrah yang pertama), dia berkata, “Ceritakanlah kepadaku satu hadis yang engkau dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak engkau sandarkan kepada seorang pun selain beliau!” “Jika engkau mau, maka aku akan melakukannya,” jawabnya. Dia berkata, “Tentu saja, ceritakanlah kepadaku.”
Akhirnya, dia menceritakan bagaimana dia menjanda dari suaminya, dan bagaimana ia melakukan ‘iddah di rumah Ibnu Ummi Maktum, kemudian dia berkata, “Setelah masa ‘iddah-ku selesai, aku mendengar panggilan penyeru Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Salat berjemaah,’ lalu aku pergi menuju masjid dan melakukan salat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu, aku berada di shaff para wanita yang dekat dengan shaff laki-laki. Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelesaikan salatnya, beliau duduk di atas mimbar sambil tersenyum, lalu berkata,
ليلزم كلّ إنسان مصلَّاه
“Hendaklah setiap orang tetap pada tempat salatnya!”
Selanjutnya, beliau bersabda,
أتدرونَ لم جمعتُكُم
“Apakah kalian tahu mengapa aku mengumpulkan kalian?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”
Beliau bersabda,
إنِّي والله ما جمعتُكم لرغبةٍ ولا لرهبةٍ، ولكن جمعتُكُم لأنَّ تميمًا الدَّاريَّ كان رجلًا نصرانيًّا، فجاء، فبايع، وأسلم، وحدَّثني حديثًا وافق الّذي كنتُ أحدثكم عن مسيح الدَّجَّال
“Demi Allah, sesungguhnya aku tidak mengumpulkan kalian untuk menyampaikan kabar gembira atau kabar buruk, akan tetapi aku mengumpulkan kalian karena Tamim ad-Dari sebelumnya adalah seorang Nasrani, lalu dia datang, melakukan bai’at dan masuk Islam. Dia menceritakan kepadaku sebuah cerita yang sesuai dengan apa yang aku ceritakan kepada kalian tentang Al-Masih Ad-Dajjal.”
“Dia menceritakan kepadaku bahwa dia pernah menaiki sebuah kapal laut bersama 30 orang yang berpenyakit kulit dan kusta. Mereka terombang ambing oleh ombak selama satu bulan di tengah lautan hingga akhirnya terdampar pada sebuah pulau di arah terbenamnya matahari. Mereka menaiki kapal kecil (sampan), lalu mereka masuk ke dalam pulau. Selanjutnya binatang dengan berbulu lebat menemui mereka, mereka tidak mengetahui mana depan juga mana belakangnya karena bulunya lebat, mereka berkata,
ويلك ما أنت؟
‘Celaka! Siapa engkau?’
Dia menjawab,
أنا الجساسة
‘Aku adalah al-Jassasah.’ Mereka bertanya, ‘Apakah al-Jassasah itu?’ Dia berkata (tanpa menjawab), ‘Wahai kaum! Pergilah kepada orang yang berada di dalam kuil ini, karena dia sangat merindukan berita dari kalian.’
Tamim ad-Dari berkata, ‘Ketika binatang itu menyebutkan seseorang kepada kami, maka kami pun meninggalkannya karena kami takut jika dia adalah setan.’ Dia berkata, ‘Akhirnya kami cepat-cepat pergi hingga kami memasuki kuil, ternyata di dalamnya ada orang yang sangat besar dan diikat dengan sangat kuat yang pertama kali kami lihat. Kedua tangannya dibelenggu sampai ke lehernya, antara kedua lututnya hingga kedua mata kakinya dirantai dengan besi.’
Kami berkata, ‘Celaka, siapa engkau?’
Dia berkata, ‘Kalian telah ditakdirkan untuk membawa kabar untukku, kabarkanlah siapa kalian?’
Mereka menjawab, ‘Kami adalah manusia dari bangsa Arab, kami menaiki kapal laut, lalu kami mendapati laut dengan ombaknya sedang mengamuk, kami terombang ambing oleh ombak selama satu bulan di tengah lautan hingga terdampar di pulau ini, kemudian kami menaiki sampan, lalu kami masuk ke pulau ini, selanjutnya binatang dengan berbulu lebat menemui kami, kami tidak mengetahui mana depan juga mana belakangnya karena bulunya sangat lebat.
Kami berkata, ‘Celaka! Siapa engkau?’ Dia menjawab, ‘Aku adalah al-Jassasah.’ Kami bertanya, ‘Apakah al-Jassasah itu?’
Dia berkata (tanpa menjawab), ‘Pergilah kepada orang yang berada di dalam kuil ini karena dia sangat merindukan berita dari kalian,’ akhirnya kami pun segera mendatangimu. Kami merasa kaget dan takut kepadanya, dan mengira bahwa dia adalah setan.’
Dia berkata, ‘Kabarkanlah kepadaku tentang pohon kurma di Baisan?’
Kami berkata, ‘Apa yang engkau tanyakan tentangnya?’
Dia menjawab, ‘Aku bertanya kepada kalian tentang buahnya, apakah dia masih berbuah?’
Kami menjawab, ‘Ya (masih berbuah).’
‘Hampir saja dia tidak berbuah lagi,’ katanya.
Dia berkata, ‘Kabarkanlah kepadaku tentang danau Thabariyah?’
Kami berkata, ‘Apa yang engkau tanyakan tentangnya?’
Dia menjawab, ‘Apakah masih ada airnya?’
Mereka menjawab, ‘Danau itu masih banyak airnya.’
“’Hampir saja airnya kering,’ katanya.
Dia berkata, ‘Kabarkanlah kepadaku tentang mata air Zughar?’
Mereka berkata, ‘Apa yang engkau tanyakan tentangnya?’
Dia menjawab, ‘Apakah mata air tersebut masih mengalir?
Dan apakah penduduknya masih bercocok tanam dengan airnya?’
Kami menjawab, ‘Betul, airnya masih banyak dan penduduknya masih bercocok tanam dengan airnya.’
Dia bertanya, ‘Kabarkanlah kepadaku tentang Nabi orang-orang yang ummi, apa yang dia lakukan?’
Mereka menjawab, ‘Dia telah berhijrah dari kota Makkah dan singgah di Yastrib (Madinah).’
‘Apakah orang-orang memeranginya?’, tanya dia.
‘Betul,’ jawab kami.
Dia bertanya, ‘Apa yang dia lakukan terhadap mereka?’
Lalu kami pun mengabarkan kepadanya bahwasanya dia telah menolong orang-orang yang mengikutinya dan mereka pun taat kepadanya.’
Dia berkata kepada mereka, ‘Apakah benar seperti itu?’
Kami menjawab, ‘Betul.’
Dia berkata, ‘Sesungguhnya lebih baik bagi mereka untuk menaatinya, dan aku kabarkan kepada kalian sesungguhnya aku adalah al-Masih (Dajjal), dan hampir saja aku diizinkan untuk keluar hingga aku bisa keluar, lalu aku akan berkelana di muka bumi. Aku tidak akan pernah meninggalkan satu kampung pun melainkan aku menyinggahinya dalam waktu empat puluh malam, selain Makkah dan Thaibah (Madinah), keduanya diharamkan atasku. Setiap kali aku hendak masuk ke salah satu darinya, maka para malaikat akan menghadangku dengan pedang yang terhunus yang menghalangiku dengannya; dan pada setiap lorong-lorong kedua kota tersebut, ada seorang malaikat yang menjaganya.’”
Fathimah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sambil menusukkan tongkat kecilnya di mimbar,
هذه طيبة، هذه طيبة، هذه طيبة -يعني: المدينة-. ألَّا هل كنت حدَّثتكم ذلك؟
‘Inilah Thaibah, inilah Thaibah, inilah Thaibah -yakni Madinah-. Ingatlah, bukankah aku pernah mengatakan hal itu kepada kalian?”
Lalu orang-orang berkata, “Benar.”
فإنّه أعجبني حديث تميم أنّه وافقال في كنتُ أحدِّثكم عنه، وعن المدينة ومكة، ألَّا إنّه في بحر الشّام، أو بحر اليمن، لا بل من قبل المشرق ما هو، من قبل المشرق ما هو، من قبل المشرق ما هو (وأومأ بيده إلى المشرق)
“Sungguh cerita yang diungkapkan oleh Tamim telah membuatku kagum karena ia sesuai dengan apa yang pernah aku ceritakan kepadanya, tentang Madinah dan Makkah. Ketahuilah, sesungguhnya dia (Dajjal) berada di lautan Syam, atau lautan Yaman. Oh tidak, tetapi berada dari arah timur, dari arah timur, dari arah timur,’ (dan beliau memberikan isyarat dengan tangannya ke arah timur).”
Fathimah berkata,
فحفظتُ لهذا من رسول الله صلى الله عليه وسلم
“Maka aku hafal hal ini dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim)
Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Sebagian ulama beranggapan bahwa hadis Fathimah ini gharib yang hanya diriwayatkan oleh perorangan. Padahal tidak demikian. Sebab, selain Fathimah juga diriwayatkan dari Abu Hurairah, ‘Aisyah, dan Jabir radhiyallahu ‘anhum.
[Bersambung]
***
Penulis: Gazzetta Raka Putra Setyawan
Artikel Muslim.or.id
Referensi:
Artikel asli: https://muslim.or.id/113104-kisah-ibnu-shayyad-bag-3.html